Eka Tjipta Widjaja (1921-2019) lahir di Quanzhou, selatan Fujian, China dengan nama Oei Ek Tjhong, merupakan seorang tycoon imigran keturunan Tionghoa yang membangun salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia: Sinar Mas.
Jiwa kewirausahanya sudah muncul sejak beliau masih berumur sembilan tahun. Selepas migrasi dari Quanzhou, beliau membantu toko kelontong milik orang tuanya dengan berjualan biskuit, permen, dan aneka barang kebutuhan lainnya dari pintu ke pintu, hingga pada akhirnya bisa dekat dengan para importir dari luar negeri.
Di tahun 1950, beliau mulai berdagang kopra sampai Pulau Selayar, Seulawesi Selatan. Manuver bisnisnya mengantarkan beliau menjadi pemasok kebutuhan TNI pada dekade yang sama.
Baru pada dekade 1960-an, Eka Widjaja mendirikan CV Sinar Mas di Pasar Pagi, Jakarta. Pada masa-masa awal Sinar Mas, fokus utama bisnisnya adalah ekspor barang, terbantu oleh kelihaiannya membangun relasi dengan para importir jauh sebelum dia memiliki kesempatan untuk melakukan ekspor.
Perlahan Eka Widjaja mengembangkan bisnisnya. Pemahamannya atas bisnis kopra menjadi awal bagi Eka untuk membangun fondasi terkuat perjalanan bisnisnya, CV Bitung Manado Oil. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan ini adalah minyak goreng merek Bimoli.
Tidak cukup sampai di situ, Sinar Mas di bawah kepemimpinan Eka terus merambah sektor bisnis lain. Langkah selanjutnya dimulai pada tahun 1972 dengan mengakuisisi perusahaan Tjiwi Kimia (TKIM) yang kemudian ditransformasikan menjadi perusahaan pulp & paper. Di tahun yang sama, Eka masuk ke bisnis konstruksi dengan mendirikan PT Duta Pertiwi Tbk. (DUTI).
Lalu pada tahun 1980 Sinar Mas meng-upgrade teknologi penghasil minyak makan agar bisa memproduksi menggunakan bahan baku kelapa sawit, menggantikan kopra. Seperti yang kita ketahui, ini adalah cikal bakal Golden Agri-Resources (SGX: E5H) yang terdaftar di Bursa Efek Singapura. Ya, GAR adalah induk dari PT SMART Tbk. (SMAR) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Dua tahun berselang, Eka Tjipta Widjaja menambah luas eksposure menuju sektor keuangan dengan akuisisi Bank Internasional Indonesia (BII) serta mendirikan PT Internas Artha Leasing —kemudian ganti nama menjadi Sinar Mas Multiartha (SMMA). BII berakhir dinasionalisasikan menyusul Krisis finansial Asia 1997. Eka kembali masuk ke sektor bank pada tahun 2005 setelah mengakuisisi Bank Shinta yang kemudian diganti nama menjadi Bank Sinarmas (BSIM).
Atas kemampuannya bermanuver di lekukan-lekukan ekonomi Indonesia, Eka Widjaja menerima penghargaan Doktor Honoris Causa dalam bidang ekonomi dari Pittsburg State University di Pittsburg, Kansas, Amerika Serikat. Menyebut Eka sebagai "ultimate entrepreneur".
Kini, gurita bisnis yang dibawahi oleh Sinar Mas mereka sebut sebagai 7 Pilar Bisnis Sinar Mas. Terdiri dari:
- Pulp dan Kertas
- Agribisnis dan Pangan
- Layanan Keuangan
- Pengembang dan Real Estate
- Telekomunikasi
- Energi dan Infrastruktur
- Layanan Kesehatan
Menjadikan Sinar Mas sebagai salah satu konglomerasi paling terdiversifikasi di Indonesia. Inilah bagian menariknya.
Seperti yang kita ketahui, perusahaan konglomerasi akan mendapati sejumlah keunggulan jika bisa dijalankan dengan saling terintegrasi antar lini bisnis. Sejalan dengan common sense tersebut, konglomerasi terdiversifikasi luas seperti Sinar Mas tentu akan menemukan kesulitan jika ingin menyinergikan dan mengintegrasikan semua lini bisnis miliknya.
Hal yang paling masuk akal adalah melepaskan masing-masing lini bisnis untuk dijalankan secara independen di bawah satu panji konglomerasi yang sama.
"Kami percaya dengan pepatah 'satu kapten untuk satu kapal,"
Linda Wijaya (cucu Eka Tjipta Widjaja)
Nama grup (dan logonya) memang sama, namun step by step value chain-nya jauh berbeda. Tentu saja prospek masa depan masing-masing bisnis juga berbeda. Jumlah pilar bisnisnya pun juga mungkin untuk bertambah, atau bahkan berkurang.
Mangkatnya Eka Tjipta Widjaja praktis menjadikan posisi pimpinan tertinggi masing-masing lini bisnis dibebaskan kepada masing-masing keturunan. Memperkuat kesan independen yang ditimbulkan masing-masing pilar bisnisnya.
Seperti yang kita sudah ketahui, manajemen juga merupakan faktor kualitatif yang mempengaruhi analisis terhadap suatu bisnis.
Lantas bagaimana potensi masa depan dari konglomerasi Sinar Mas? Siapakah keturunan yang paling tepat untuk memegang kendali penuh setelah Eka Tjipta Widjaja?
7 Pilar Bisnis Untuk Keturunan "Resmi"
Sinar Mas, layaknya konglomerasi Indonesia lainnya, juga merupakan family-managed business. Di mana pimpinan perusahaan akan digantikan oleh keturunannya, atau setidaknya orang lain dari keluarga yang sama.
Namun menelusuri keturunan dari Eka Tjipta Widjaja bukan merupakan perihal gampang. Beliau memiliki setidaknya 15 anak yang sah secara hukum dari perkawinan dengan dua istri sahnya. Pernah juga dilaporkan bahwa beliau memiliki 13 keturunan di luar pernikahannya yang sah.
Dalam buku berjudul Asian Godfathers: Money and Power in Hong Kong and Southeast Asia (2007) Joe Studwell mengemukakan:
Eka memiliki sejumlah istri (tujuh adalah angka yang paling sering disebutkan —keluarganya tidak akan menyediakan hitung-hitungannya) dan sekitar 40 anak. Empat anak laki-laki dari istri pertamanya Trini Dewi Lasuki— Teguh, Indra, Muktar dan Franky—manajer utama dari usaha keluarga per hari ini.
Dari info lain yang kami dapatkan, tertera dalam sebuah artikel berjudul Indonesia's Eka Tjipta Widjaja, ada dua lagi anak laki-laki dan dua anak perempuan yang lahir dari pernikahan "resmi" beliau. Mereka adalah Oei Hong Leong yang sudah menjadi warga negara Singapura, Frankle (Djafar), Fenny dan Sukmawati.
Artikel yang diterbitkan tahun 1994 tersebut menyebutkan bahwa Eka Widjaja cenderung memperlakukan anak-anak "resmi" dari istri pertamanya sebagai partner bisnis sekaligus ahli waris, sementara Eka menyediakan kebutuhan keuangan lain seperti pinjaman untuk memulai bisnis kepada keturunannya dari istri yang lain.
Dari banyaknya keturunan "tidak resmi" tersebut, sempat muncul nama Freddy Widjaja yang melakukan gugatan atas hak waris yang ditinggalkan.
Eka Widjaja mungkin sangat lihai dalam berbisnis. Namun untuk mendidik anak-anaknya menjadi pebisnis tangguh adalah soal lain. Pembahasan mengenai siapa yang akan mengambil alih posisi Eka sebagai Supreme Leader belum benar-benar ditutup hingga sekarang.
Di masa lalu, pembahasan tersebut sebenarnya sudah pernah selesai. Kala itu, nama seorang Rudy Maeloa mencuat. Rudy adalah keponakan dari Eka yang menikah dengan anaknya, Sukmawati. Rudy pernah mengambil alih kemudi Sinar Mas. Tidak tanggung-tanggung, Indra Widjaja menggambarkannya sebagai "tangan kanan Eka Wijaya". Di bawah kendalinya, pada dekade 1980-an, Sinar Mas berhasil berekspansi luas.
Namun Rudy meninggal di tahun 1988, pada saat itu Teguh Widjaja yang merupakan putra sulung terpaksa mengambil kendali di rapat keluarga, namun info yang beredar mengatakan bahwa Teguh masih kekurangan kualitas seorang pemimpin.
Hingga kini, tidak ada anak Eka Widjaja yang memiliki posisi lebih tinggi dibanding saudara-saudaranya, lini bisnis Sinar Mas masih dikendalikan secara independen dengan sebutan 7 Pilar Bisnis yang dikendalikan secara terpisah oleh masing-masing keturunan.
1. Pulp dan Kertas - Asia Pulp and Paper (APP)
Karya-karya terbaik negeri lahir dari perusahaan yang satu ini. Kertas dan buku tulis merek Sinar Dunia (SIDU) adalah salah dua contohnya. Begitu juga dengan tisu segala kegunaan seperti tisu wajah, tisu toilet, tisu makan, hingga tisu bayi dengan ekuitas merek Paseo, Nice, Jolly, Toply hingga Livi. Produk-produk dari APP dengan mudahnya memenuhi pasar Indonesia.
APP memiliki sekitar 14 anak usaha yang terbagi di daerah China dan Indonesia, serta hubungan antar perusahaan yang cukup kompleks, seperti benang kusut.
Di Indonesia sendiri, perusahaan tertinggi di lini bisnis pulp dan kertas adalah PT Purinusa Ekapersada. Purinusa Ekapersada memiliki beberapa anak perusahaan yang terlibat dalam value chain secara luas. Di antaranya ada dua lini bisnis yang sudah menjadi perusahaan terbuka yaitu Tjiwi Kimia (TKIM) dan Indah Kiat Pulp and Paper (INKP). Sisanya, ada PT Pindo Deli, PT Cakrawala Mega Indah, PT Pangkalan Usahamaju dan PT The Univenus, yang merupakan perusahaan tertutup.
Keterlibatan pihak keluarga Widjaja terhadap operasional harian INKP dan TKIM terbilang cukup minim. Di mana posisi manajemen kunci di kedua perusahaan sudah dipegang oleh pihak profesional. Meskipun begitu, eksposur keluarga Widjaja masih jelas terlihat dari beneficial ownership melalui PT Purinusa Ekapersada. Kapanpun ada direksi yang bertindak di luar jalur, pihak keluarga masih memiliki power untuk mengambil keputusan tertinggi.
Pembagian "kue" di Purinusa juga tidak neko-neko. Berdasarkan catatan resmi, setidaknya ada empat keturunan Eka Widjaja yang tercatat memiliki saham di Purinusa. Terdiri dari tiga anak: Indra Widaja, Muktar Widjaja, Franky Widjaja yang masing-masing memiliki 21,9% saham Purinusa Ekapersada, dan 21,9% milik cucu Eka yaitu Linda Wijaya yang merupakan anak dari putra tertua, Teguh Widjaja. Sementara 12,4% sisanya dipegang oleh lain-lain.
Sulit untuk menemukan berkas resmi mengenai posisi Teguh Widjaja di APP Sinar Mas. Namun dari info yang kami berhasil kumpulkan, Teguh Widjaja, putra tertua Eka Tjipta masih menjadi pimpinan tertinggi hingga saat ini.
2. Agribisnis dan Pangan - Golden Agri Resources (GAR)
Pilar selanjutnya adalah agribisnis sektor yang bisa dibilang "menelurkan" nama baik Eka Tjipta Widjaja. Kilang minyak kelapa (kopra) yang dibangun pada 1968 atas nama CV Bitung Oil Manado sukses melejitkan namanya. Produk Bimoli yang dihasilkan oleh perusahaan ini sukses besar, bahkan disebutkan pernah menguasai pangsa pasar minyak goreng hingga 60 persen.
Dari sini, hubungan Eka dengan Sudono Salim, cukong nomor satu era Suharto, terjalin. Berdua, mereka membangun pabrik baru di bawah PT Sinar Mas Inti Perkasa (1983). Namun kisah manis itu hanya berjalan kurang dari 10 tahun. Eka Widjaja dan Sudono Salim pecah kongsi, meninggalkan merek Bimoli dan Simas Palmia kepada Salim Group.
Tidak butuh waktu lama bagi Eka dan Sinar Mas untuk membangun brand baru tandingan Bimoli, dengan mengeluarkan produk saingan merek Filma —yang diproduksi oleh PT Sinar Mas Agro.
Kini industri minyak goreng sudah lebih maju. Minyak kelapa (kopra) hampir sepenuhnya ditinggalkan, malahan industri minyak sawit atau yang dikenal sebagai Virgin Coconut Oil (VCO) yang jadi primadona.
Sinar Mas tentu saja masih memiliki eksposur besar di industri ini. Di bawah panji Golden Agri Resources yang terdaftar di Bursa Efek Singapura, dan anak usahanya SMAR yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, Sinar Mas menguasai setidaknya 536.000 hektare kebun sawit.
Pucuk pimpinan GAR dipercayakan kepada Franky Widjaja (Chairman & CEO), serta didukung oleh Muktar Widjaja (Presiden & Executive Director).
Di jajaran direksi juga ada anak perempuan dari Franky Widjaja, Jesslyn Widjaja. Tidak main-main, Jesslyn menjabat sebagai Direktur Corporate Strategy & Business Development.
3. Pengembang dan Real Estate - Sinar Mas Land (SML)
Bisnis konstruksi dan properti juga bukan hal yang baru bagi Sinar Mas. Grup sudah memiliki pengalaman sekitar 40 tahun dalam bidang ini, dengan perusahaan pertamanya DUTI.
Sekarang, bisnis properti Sinar Mas sudah menggurita di bawah nama Sinar Mas Land. Perusahaannya juga tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX: A26).
Sinar Mas Land (SML) membawahi sembilan bisnis properti di Indonesia, di mana tiga diantaranya sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia, yaitu BSDE, DUTI dan DMAS. Bisnis properti SML juga tersebar di beberapa negara seperti China, Singapore, Malaysia hingga United Kingdom. Menguasai sekurang-kurangnya 14 perusahaan properti di berbagai penjuru dunia, tanpa mengikutsertakan sembilan perusahaan di Indonesia.
Di pilar bisnis ketiga ini, kebalikan dari pilar bisnis sebelumnya, jabatan CEO dipegang oleh Muktar, ditemani oleh Franky sebagai Chairman. Bagian paling menarik justru keberadaan dari anak kandung Muktar Widjaja, Margaretha Natalia Widjaja, yang memegang posisi penting di Sinar Mas Land sebagai Executive Director.
Adik dari Margaretha yang usianya kelang tiga tahun, Michael JP Widjaja, juga mempunyai peran penting dalam sejarah perkembangan Sinar Mas Land. Kini, Michael Widjaja menduduki posisi Group CEO Sinar Mas Land.
4. Jasa Keuangan - Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA)
Sinar Mas Multiartha (SMMA) didirikan dengan nama Internas Artha Leasing Company (1982) bertujuan untuk menjadi holding jasa keuangan terintegrasi Sinar Mas. Singkatnya, seluruh jasa finansial yang berhubungan dengan Sinar Mas, hampir pasti beririsan dengan SMMA.
Ada enam segmen usaha yang didalami oleh SMMA, diantaranya: Asuransi, Leasing, Biro administrasi efek, jasa brokerage dan Manajer Investasi, Perbankan, dan Trading services. Penjualan tertinggi masih didominasi oleh sektor perbankan, disusul sektor leasing.
Tokoh keluarga Widjaja yang memegang posisi tinggi kali ini adalah Indra Widjaja yang merupakan putra ketiga, sebagai komisaris utama SMMA. Di jajaran komisaris sendiri ada Howen Widjaja dan Fuganto Widjaja. Keduanya merupakan putra dari Indra, dan sudah lama terlibat dalam kegiatan bisnis SMMA.
Dua lagi tambahan generasi ketiga yang sudah terjun ke bisnis keluarga Widjaja.
5. Komunikasi dan Teknologi - Smartfren (FREN)
Melansir dari situs sinarmas.com, pilar bisnis Komunikasi dan Teknologi Sinar Mas diisi oleh perusahaan Smartfren (FREN). Namun menarik untuk dikulik, sebenarnya kepemilikan Sinar Mas di smartfren juga menghitung saham milik Dian Swastatika Sentosa (DSSA) yang diklasifikasikan perusahaan ke dalam pilar bisnis Energi dan Infrastruktur.
Belakangan, FREN sedang menjadi perhatian para pelaku pasar modal di Indonesia. Penyebabnya adalah aksi korporasi penggalangan dana yang terus dilakukan baru-baru ini, mengindikasikan bahwa perusahaan sedang berupaya untuk mengejar pertumbuhan.
Aksi korporasi besar bukanlah hal yang baru di Smartfren. 10 tahun yang lalu, Sinar Mas sudah pernah melakukan aksi korporasi merger untuk mengembangkan infrastruktur, memperluas jaringan pemasaran, dan meningkatkan efisiensi operasional. (Selengkapnya tentang merger perusahaan telekomunikasi: Merger, Sang Penyelamat Sektor Telekomunikasi).
Dalam susunan manajerial sendiri, posisi manajemen kunci perseroan tidak diisi oleh keluarga Wijaya. Sulit memperkirakan masa depan Smartfren di dalam konglomerasi Sinar Mas. Pasalnya, dengan cara kerja konglomerasi yang independen, tidak ada jaminan bahwa FREN akan di-keep selamanya. Apalagi dengan performa keuangan yang belum menunjukkan perbaikan free cash flow, ditambah daya tawar di pasar yang masih kalah jauh dari bisnis jasa telekomunikasi milik kompetitor.
Hingga saat ini, kabarnya pimpinan Smartfren dari Grup Sinar Mas adalah Franky Widjaja. Beliau adalah arsitek di balik aksi korporasi merger 10 tahun yang lalu.
6. Energi dan Infrastruktur - Dian Swastatika Sentosa (DSSA)
DSSA adalah bisnis milik Sinar Mas yang bergerak di bidang energi dan infrastruktur, pemasukan utamanya berasal dari pertambangan dan perdagangan batubara, disusul oleh penyediaan energi uap dan listrik, trading, lalu penyediaan TV dan Internet. Ya, kamu tidak salah baca. Pendapatan dari TV dan Internet dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan yang didominasi oleh bisnis pertambangan.
DSSA merupakan induk tidak langsung dari Golden Energy Mines (GEMS), di mana DSSA memiliki 86% saham Golden Enery Resources Limited yang berhak atas 62,5% saham GEMS.
DSSA sendiri dimiliki oleh PT Sinar Mas Tunggal sebanyak 60%. Sinar Mas Tunggal dimiliki oleh Linda Wijaya, Indra Widjaja, Muktar Widjaja dan Franky Widjaja. Saat ini DSSA dipimpin oleh Franky Widjaja sebagai komisaris utama, dibantu oleh Indra Widjaja sebagai wakil komisaris.
Sementara itu di pusat pendapatan terbesar DSSA, yaitu GEMS, Fuganto Widjaja menjabat sebagai dewan komisaris. Sekaligus merangkap sebagai Group CEO Golden Energy Resources Ltd, induk dari GEMS.
Fuganto adalah sosok generasi ketiga yang turut andil mengambil alih kendali Asia Recources Mineral Plc, induk usaha Berau Coal Energy Tbk. (BRAU).
7. Kesehatan - Eka Hospital
Pilar ke tujuh ini sudah beroperasi sejak 2008 di bawah PT Pelita Reliance International Hospital yang, menurut artikel di website Eka Hospital, adalah salah satu pilar usaha Sinar Mas.
Bisnis Rumah Sakit memang sudah lama jadi primadona di kalangan para konglomerat. Sandiaga Uno, melalui perusahaan konglomerasinya Saratoga Investama (SRTG), juga berinvestasi di bisnis rumah sakit Awal Bros.
Jika pada enam pilar yang lain posisi Komisaris Utama masih diisi oleh anak-anak Eka Tjipta, di pilar ketujuh ini, Komisaris Utama justru diberikan kepada cucu Eka Tjipta yang merupakan anak dari Teguh Widjaja, Linda Wijaya.
Tidak banyak informasi yang bisa digali dari pilar ketujuh ini, namun dari pendekatan top-down analysis, tampaknya bisnis rumah sakit punya potensi masa depan yang cerah karena ketidakseimbangan antara supply & demand.
Menanti Take Over Oleh Generasi Ketiga
Pada dasarnya, ketentuan "bagi-bagi kue" sudah lebih dahulu ditetapkan bahkan sebelum Eka Tjipta berpulang.
Teguh Widjaja yang merupakan anak pertama harus memusatkan pikiran untuk bisnis dengan skala ekonomi terbesar di Grup Sinar Mas, yaitu Asia Pulp and Paper.
Indra Widjaja yang lahir menyusul Teguh dipercaya atas urusan keuangan Sinar Mas yang terwakilkan oleh aktivitas bisnis SMMA.
Muktar yang berusia lebih muda diberikan kendali penuh atas bisnis properti yang masih ekspansif milik Sinar Mas Land, serta sedikit tanggung jawab atas sektor pertambangan konglomerasi Sinar Mas.
Lalu Franky diberikan tanggung jawab untuk memimpin perusahaan dengan kebun seluas 500 ribu hektar. Mungkin karena Franky juga yang berjiwa paling muda, beliau diberikan tanggung jawab tambahan untuk melejitkan kiprah Sinar Mas di sektor telekomunikasi dan tekonologi melalui Smartfren.
Dari informasi yang sudah disajikan mengenai beberapa perusahaan kunci Sinar Mas, dapat dilihat suatu pola unik yang berulang. Pada masing-masing pilar bisnis yang dipimpin oleh anak Eka Tjipta, terdapat pula generasi ketiga keluarga widjaja yang turut berpartisipasi dalam membesarkan bisnis perusahaan.
Fu bu guo san dai, kekayaan tidak pernah bertahan lebih dari tiga generasi: generasi pertama membangun bisnis, generasi kedua mencari uang, generasi ketiga menghabiskannya.
Kalimat tersebut adalah pepatah Tionghoa, kalimat sakral yang bukannya ditakuti, namun malah lebih sering menjadi api pengobar semangat bagi keturunan pebisnis kaya Tionghoa—semata untuk membuktikan bahwa peribahasa itu salah.
Keluarga Widjaja cukup paham dengan pepatah tersebut. Karena itulah, para generasi kedua yang sekarang sedang memimpin, sudah mempersiapkan generasi ketiga untuk mengambil alih di kemudian hari.
1. Linda Wijaya - Asia Pulp and Paper (APP)
Teguh Ganda Widjaja, ayah dari Linda Wijaya, adalah Supreme Leader di perusahaan Asia Pulp and Paper. Bahkan seperti yang sebelumnya dibahas, Linda sendiri berhak atas 21,9% saham Purinusa Ekapersada yang merupakan induk dari beberapa perusahaan pulp dan kertas milik Sinar Mas.
Di APP, Linda Wijaya merupakan Managing Director. Jabatan ini tidak diberikan secara cuma-cuma, Linda memang sudah sejak lama memantaskan dirinya untuk didapuk sebagai calon pemimpin Sinar Mas.
Linda lahir di Surabaya pada tanggal 13 April 1981. Beliau memperoleh gelar sarjana di bidang Industrial Engineering dari University of Michigan pada tahun 2002, dan memperoleh gelar Master dalam bidang Financial Engineering dari Columbia University setahun kemudian.
Linda lalu pulang kampung dan mendapat tugas pertamanya di konglomerasi Sinar Mas sebagai anggota Steering Committee Sinar Mas Pulp, Paper, Stationery & Chemical Division mulai tahun 2004. Sempat menjabat sebagai komisaris TKIM selama dua tahun, sebelum diangkat menjadi Direktur TKIM. Kehandalannya dibutuhkan juga di anak usaha APP yang lain seperti PT Pindo Deli dan PT Lontar Papyrus.
Kiprahnya di luar APP juga tak kalah mentereng, Linda saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama Eka Hospital. Kepercayaan tersebut tidak bisa diberikan begitu saja ke sembarang orang. Kini Linda sedang gencar mengembangkan aplikasi layanan kesehatan online besutannya yang bernama SehatQ.
Founder dan CEO SehatQ, sekaligus Komisaris Utama Eka Hospital, kombinasi apa lagi yang lebih menyilaukan?
2. Fuganto Widjaja - GEMS & SMMA
Fuganto Widjaja, yang merupakan anak dari Indra, punya peran lebih dari sekadar "tim hore" di SMMA dan GEMS. Anak bungsu dari Indra Widjaja ini punya karir yang gemilang.
Fuganto lahir pada tanggal 29 Oktober 1981, hanya berselang beberapa bulan setelah Linda. Namanya mulai ramai diperbincangkan setelah Fuganto berhasil mengakuisisi Asia Resource Mineral Plc yang merupakan induk usaha Berau Coal Energy (BRAU), perusahaan tambang batubara yang didirikan oleh Nathaniel Rothschild.
Fuganto juga tidak mendapatkan semua kemewahan ini dengan cuma-cuma. Di dunia pertambangan, Fuganto sudah mengantongi 15 tahun pengalaman sebelum ditunjuk menjadi Group CEO Golden Energy Resources, induk usaha GEMS.
Sebelum berkarir di Sinar Mas, Fuganto sudah dibekali ilmu pengetahuan dari kuliahnya di Cambridge Judge Business School, dan pengalaman kerja sebagai Analis Investasi di Bank UBS Singapura pada tahun 2003.
Sama seperti Linda Wijaya, Fuganto juga memulai hal baru di luar dari bisnis keluarganya. Salah satu buah pikirannya adalah air mineral merek Pristine yang sekarang berada di bawah kendali Grup Sinar Mas.
Fuganto juga terkenal dengan kelihaiannya bermain kata. Di acara pemakaman Eka Tjipta, Fuganto menyebutkan sumpah bagi Sinar Mas untuk terus bertumbuh, terus berekspansi.
"Kami juga ditantang, oleh generasi kedua, tugas kami adalah menumbuhkan Sinar Mas dengan menambahkan angka nol dibelakang - 10 kali lipat," timpal Linda Wijaya.
Kombinasi antara Linda dan Fuganto kelihatannya akan semakin menarik untuk disimak.
3. Michael Widjaja - Sinar Mas Land
Sepupu mereka yang tidak kalah fenomenal adalah Michael Widjaja, sekarang menjabat sebagai Group CEO di Sinar Mas Land. Misi utamanya sejak dulu adalah membangun Sillicon Valley versi Indonesia di wilayah milik Sinar Mas.
Michael, sudah bisa ditebak, adalah anak dari Muktar Widjaja yang saat ini memegang kendali atas Sinar Mas Land sebagai Chief Executive Officer.
Tidak seperti dua sepupu sebelumnya, Michael lahir tahun 1984, tiga tahun lebih lambat. Namun saudari Michael, Margaretha Natalia Widjaja justru merupakan anak kelahiran 1981, yang lahir dua bulan setelah kelahiran Fuganto.
Saat ini, Margaretha diberi kepercayaan sebagai Executive Director di Sinar Mas Land.
4. Jesslyne Widjaja - Golden Agri Resources
Generasi ketiga masih menyimpan satu lagi calon pemimpin kelahiran 1981, seorang Jesslyne Widjaja yang sekarang menjabat sebagai Direktur Corporate Strategy & Business Development di sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang—katanya— adalah perusahaan terbesar kedua di dunia.
Sesuai dengan pola unik sebelumnya, Jesslyne adalah anak dari Franky Widjaja yang saat ini merupakan CEO Golden Agri Resources.
Tampaknya awal karir yang dimulai sebagai Consulting Analyst di Deloitte, serta menjadi Investment Banking Associate di Citibank cukup bagi Franky untuk mempercayakan sebagian keputusan kepada Jesslyne Widjaja.
Sebenarnya masih banyak cucu Eka Tjipta yang berpotensi untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan dari generasi kedua. Saat ini, tidak kurang dari 12 orang cucu yang ikut menjalankan kegiatan bisnis Sinar Mas melalui berbagai anak usahanya.
Namun dari 12 orang tersebut, empat orang yang baru disebutkan di atas memang memiliki nilai tambah tersendiri.
Jika kamu berniat untuk "bermitra" jangka panjang bersama Sinar Mas, siapakah sosok yang paling kamu nanti untuk menjadi Supreme Leader Grup Sinar Mas menggantikan Eka Tjipta?
DISCLAIMER:
Artikel di atas dibuat semata untuk tujuan penyediaan referensi dan edukasi, bukan rekomendasi untuk keputusan keuangan dan investasi tertentu. Setiap pihak bertanggung jawab penuh atas keputusan keuangan dan investasi yang dibuatnya sendiri.
Penulis tidak memiliki posisi di saham-saham yang disebutkan. Analisis dibuat berdasarkan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan dimuat sebagaimana adanya.
Sumber & edisi
Naskah oleh Fachry Nuzuli, pertama terbit 16 September 2021. Edisi digital: 6 Oktober 2026. Batas informasi: 16 September 2021, menggunakan tanggal publikasi sebagai batas atas.
Isi naskah dan urutan pembahasan dipertahankan. Keterangan sumber di setiap visual menjelaskan data yang tersedia. Gambar yang belum tersedia ditandai pada posisinya.
Publikasi asli ↗




